Tumbuhkan Self Actualization Murid melalui Outdoor Study

KAMIS pagi, 13 November 2008 Experimental Farm (Exfarm) Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman Purwokerto dipenuhi ratusan murid dan guru kelas 3 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Pembelajaran langsung melalui Outdoor Study kembali digelar. Melalui program ini, setiap murid diajak mempelajari sesuatu langsung dari sumbernya baik berupa alam, lingkungan sekitar dan nara sumber yang berkompeten.

“Semua Murid dibawa mengamati pertumbuhan dan perkembangan hewan ternak didampingi sumber-sumber ahli dibidangnya. Selain itu bermanfaat pula untuk mengajak murid mentafakuri ayat Allah, khususnya surat An-Nahl ayat ke-5 yang artinya ‘dan hewan ternak telah diciptakanNya untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, sebagiannya kamu makan'”, tutur Ririn Nursanti, S.Pd.I Wakil Kepala Sekolah Level 3

Suasana di exfarm terasa tenang dan segar. Di awal acara, Perhatian murid-murid tampak begitu senang saat Kepala Exfarm dr.h. Sufirianto, M.P. menceritakan sebagian isi exfarm. Tampaknya dr.h Sufirianto berhasil memukau semua murid. Murid-muridpun menjadi semakin bersemangat saat tiba waktunya untuk melihat berkeliling exfarm.

“Murid-murid dibagi 5 kelompok sesuai kelasnya masing-masing secara bergantian mengobservasi di tiap-tiap Sub peternakan yang meliputi sub pemerasan susu sapi, sub peternakan ayam potong, sub peternakan kambing, dan sub peternakan sapi potong.” lanjutnya menjelaskan.

Pandu Harya Sembada salah satu murid kelas 3 Al Khazini dengan sangat antusias mengatakan “Saya merasa senang bisa melihat langsung pemerasan susu sapi. Lalu sekarang saya tahu bagaimana agar kambing, ayam, sapi bisa cepat besar, yaitu harus dirawat, diberi makan dan minum secara teratur”.

Kegiatan ini diyakini sesuai dengan falsafi pendidikan modern, dimana seorang anak diperlakukan sebagai manusia yang sedang tumbuh dengan sejumlah potensi yang dimilikinya. “Anak bukanlah tong kosong yang bisa diisi apa saja tanpa seleksi pilihan dari diri sendiri. Pendidikan bukan semata-mata proses transformasi, tetapi lebih pada proses internalisasi. Dengan demikian anak bukan semata-mata obyek pasif, tetapi juga subyek yang aktif yang bisa membedakan dan memilih, bisa menentukan kata hati, bisa mengungkapkan perasaan, bisa mengexpresikan kebenaran, keindahan, dan pilihan-pilihan lain di luar pilihan orang tua dan guru”, terang Ririn Nursanti panjang lebar.

Dengan demikian, peran guru lebih bersifat fasilitator dan aksesator agar anak mampu menemukan diri, mengembangkan diri.

Bila berkaca pada Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan) dalam teori kebutuhan Maslow, maka pembelajaran langsung memberikan kemungkinan yang tinggi untuk melampaui level pemenuhan akan belajar. Dengan demikian tinggal selangkah lagi untuk mencapai level tertinggi, Self Actualization.[]

Sehari bersama Mr Paul

CERAHNYA pagi di 29 November yang lalu semakin semarak oleh riangnya murid-murid SMP Al Irsyad Purwokerto. Tampak belasan murid bergantian bercengkrama dengan native speaker yang disiapkan oleh sekolah.

Di Week end terakhir bulan november itu seluruh murid berkesempatan mempraktekkan kemampuan bahasa inggrisnya secara langsung kepada Mr. Mohammad Paul asal Wath Upon Dearne, Inggris.

Native speaker muslim ini mengaku lebih senang dipanggil Mas Paul, karena terasa jauh lebih ramah dan akrab. Tampaknya, gaya mas Paul inilah yang membuat murid-murid tampak akrab, saling sapa, dan berani mencoba bertanya.

Saat ini mas Paul tinggal bersama istri dan putrinya yang masih balita di Sapuran Wonosobo, kampung halaman istrinya.

“Saya samasekali tidak ingin pulang ke Inggris” ungkap mas paul di sela-sela kegiatan. “Di sini saya sudah punya rumah di tempat yang sangat indah, Istri yang cantik, dan anak yang putih seperti saya” lanjutnya dengan logat yang masih belum fasih.

“Saya sangat terkesan dengan sekolah-sekolah disini, karena semangat go internasionalnya sangat tinggi” lanjunya. “Anak-anak sangat ramah, dan mudah diajak bercerita.”

Mintarsih, S.Sos wakil kepala SMP Al Irsyad Bidang Kurikulum menyatakan “Sebagai sekolah bilingual Inggris-Arab, memang disiapkan beberapa strategi pembiasaan berbahasa asing di sekolah. Diantaranya english area, experiment english day setiap hari rabu, pembiasaan interaksi di kelas dalam bilingual, termasuk bersama native speaker persemesternya.”

Mas Paul memang bukan tamu baru di SMP Al Irsyad, sebelumnya dia sempat mengisi ruang kelas akselerasi SMP Al Irsyad Purwokerto dengan cerita-cerita lucunya.

“Native speaker bahasa Inggris jarang yang beragama Islam, terbuka, dan dekat dengan anak-anak. Alhamdulillah kita memiliki mas Paul, dan diluar dugaan mas Paul segera menyedot perhatian anak-anak di menit-menit pertama” tutur Nandar Sujono, S.Pd guru bahasa Inggris SMP Al Irsyad Purwokerto yang menjadi moderator pada acara ini.[]

Lagi, Juara Olimpiade Banyumas

SATU bulan setelah kemenangan Abdullah Faruqi murid SMA IT di ajang olimpiade Fisika kabupaten, kemenangan serupa juga diperoleh Aulia Rahman Hanifan (10) murid kelas 5 SD Al Irsyad 02 di Olimpiade Matematika kabupaten 15 Desember yang lalu. Kemenangan ini sekaligus semakin menegaskan kualitas sekolah Al Irsyad di pentas kabupaten.

Aulia Rahman Hanifan setidaknya memenangkan dua tahap lomba, yakni juara 2 Olimpiade tingkat kecamatan pada 13 Desember, lalu tanpa kesultan meraih juara 1 Olimpiade tingkat kabupaten pada 15 Desember mengalahkan SD Santa maria dan SD Sokanegara I yang berada di peringkat 2 dan 3. Dengan demikian Aulia Rahman berhak untuk mewakili Banyumas di pentas provinsi.

Saat Adzkia menemuinya di sekolah, Putera dari pasangan Drs. Ilyas Sugiwiharto dan Dra. Sri cahyati ini mengaku sempat stres menjelang lomba. Terutama lomba tingkat kabupaten yang hanya berjarak 2 hari saja dari lomba tingkat kecamatan. Belum lagi bila mengingat soal yang lima puluh persennya menggunakan bahasa inggris.

Untungnya putera ketiga dari tiga bersaudara ini memiliki cara relaksasi sendiri yang efektif dengan nonton film kartun dan jalan-jalan di sekitar rumahnya di jalan Jayadiwangsa no 5 Rt 1 Rw 1 Karanglewas Purwokerto. “Biasanya semangat muncul lagi” tuturnya sambil tersenyum.

Kesuksesan ini membuka jalan bagi Aulia untuk naik ke peringkat propinsi mendatang. Rupanya peluang juara yang semakin terbuka ini dihadapinya dengan penuh semangat, “Saya ingin ikut olimpiade lagi, ingin jadi juara lagi.”[]

Pelatihan mewarnai untuk guru TK se-Banyumas

TIDAK kurang dari 80 guru TK tampak antusias menggaris, mengarsir dan mewarnai gambar pak tani menarik kerbau dengan krayon. Kemarin Sabtu (13/12) di aula SD Al Irsyad 01 Purwoketo.

Para guru ini mendapat kesempatan belajar mewarnai dalam acara Pelatihan Mewarnai untuk Guru TK se-kabupaten Banyumas. Tidak tanggung-tanggung, dalam acara gratis ini para peserta mendapatkan materi dan praktek langsung dibawah bimbingan Aris Suryono pelatih melukis dan mewarnai yang telah berhasil membawa anak diiknya sampai tingkat nasional.

“Menggambar maupun mewarnai sangat berpengaruh pada peekembangan kecerdasan otak karena membutuhkan konsentrasi, kedisiplinan, dan imajinasi yang kuat” tutur Aris Suryono mengawali pelatihan.

Pada kesempatan yang sama, Agus Tardian Kepala SD Al Irsyad 01 mengungkapkan “Ide pelatihan ini muncul dari fenomena banyaknya lomba mewarnai di Banyumas. Namun sepertinya piala juara sering dimonopoli oleh beberapa sekolah saja, sementara yang lain dipaksa puas dengan sekedar mengikutinya saja.”

“Bila ini dibiarkan, maka akan mucul stagnanisasi kualitas peserta lomba, apalagi saat ini telah muncul pesimisme pada sebagian besar sekolah” lanjutnya.

Pelatihan mewarnai ini mengajarkan para guru untuk pintar memilih alat dan bahan, diantaranya perlunya memilih krayon dibandingkan pensil warna, menentukan penghapus khusus untuk krayon, sampai menyiapkan phylox clear untuk melapis karya murid agar awet.

Para peserta tampak semakin antusias saat praktek mewarnai dimulai. Tangan para guru ini tampak serius menggaris dan mengarsir kertas gambar.

Dresti Indrati dari TK Pertiwi Mersi mengatakan antusiasmenya “Saya senang bisa belajar seperti ini, pelatihan seperti ini terasa sangat penting untuk memebantu mengajar di sekolah. Jelas saya berharap dapat membuat anak-anak di sekolah kami dapat menjadi juara.”

Demikian pula Nurul Arifin dari Taman bermain fatimatuzzahra, “Manfaat pelatihan ini akan terasa manfaatnya saat berhasil dibawa ke sekolah. Saya berharap pelatihan semacam ini juga bisa digelar untuk anak-anak.”

Acara yang dibuka oleh Eko Sumaryono dari Dinas Pendidikan Banyumas ini ditutup dengan pembagian hadiah, doorprise dan piagam kepada para peserta.[]

Jadi Juara berkat Cintai Fisika

SIANG 20 November, SMA IT Al Irsyad dikejutkan oleh surat dari Jurusan Matematika IPA (MIPA) Universitas Jenderal Soedirman. Olimpiade Fisika tinggal tiga hari lagi.

“Informasi ini terlalu terburu-buru, logikanya sekolah perlu waktu untuk mempersiapkan peserta lomba” Ungkap Abdul Haris Kepala SMA IT Al Irsyad Purwokerto.

“Akan tetapi kekhawatiran ini segera terobati, karena di SMA ini ada Abdullah Faruqi si jago fisika” lanjutnya.

Siang itu pula ditetapkan Faruqi menjadi wakil dari SMA IT Al Irsyad dalam ajang lomba fisika ini. Raut kaget sempat terlihat di wajah Faruqi, namun sesaat kemudian semangat dan kebahagiaan lebih terlihat diwajahnya.

“Fisika itu menyenangkan, jauh lebih mudah daripada matematika” ungkap Faruqi bersemangat.

Sayangnya, kesibukan belajar membuat persiapan lomba tercecer, dan putra dari Yusuf Sufiyanto dan Sri Utami ini hanya bisa belajar tenang pada malam terakhir sebelum pertandingan.

Uniknya kemampuan Faruqi langsung menempati urutan tertinggi di sesi eliminasi pertama, yaitu sesi multiple choise yang mengandalakan kemampuan mengunakan rumus fisika. Dengan demikian Faruqi berhak mengikuti sesi eliminasi berikutnya.

Lima soal di sesi eliminasi kedua berisi lima soal essay dengan level tinggi ini ternyata tidak terlalu menyulitkan bagi Faruqi. Posisi kedua dengan mudah diraihnya. Faruqi melenggang ke ajang final olimpiade yang mempertaruhkan kemampuan praktek fisikanya.

“Soal dalam setiap sesi ini terlalu berat bagi murid SMA kelas satu, karena terlalu banyak soal yang tidak diajarkan di kelas satu. Karena itulah, saya mengandalkan rumus-rumus sederhana untuk mengurai soal-soal, alhamdulillah saya berhasil melaluinya” Ungkap Faruqi.

“Sesi final terasa berat, terutama karena praktek secara lengkap seperti ini belum pernah dilakukan di sekolah. Saya menyadari keterbatasan ini karena bila dibandingkan dengan peserta lain, sayalah satu-satunya yang masih kelas satu, tapi saya tidak mau kalah” lanjutnya bersemangat.

Alhasil, Faruqi yang saat ini sedang melakukan riset untuk menciptakan bahan bakar dari air laut ini berhasil menempati urutan ketiga.

Faruqi tersenyum lalu ikut bersorak bersama riuh tepuk tangan para peserta, tamu dan dewan juri. Batasan kelas telah benar-benar terlampaui, jalan semakin lapang dan memberi tambahan percaya diri padanya. “Olimpiade berikutnya pasti saya kejar” ucapnya berbinar-binar.[]

Siapkan Generasi dengan Soft Skill

Habit Forming

Habit Forming

PENDIDIKAN formal tidak cukup untuk menghasilkan pemuda-pemuda Islam yang tangguh. Masih dibutuhkan bimbingan keterampilan menghadapi masalah hidup sehari-hari.

“Banyak sekolah yang menyerahkan persoalan softskill ini kepada masyarakat dan orangtua, sementara saat ini masyarakat di sekitar sekolah dan rumah tinggal murid sedang kesulitan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pendidikan. Akibatnya anak-anak berada pada lingkungan pembelajaran yang tidak terkontrol dan tidak sistematis. Tentunya beresiko pada munculnya pemahaman yang salah atas berbagai persoalan.” Ungkap Ir. Abdul Harits Kepala SMA IT Al Irsyad Purwokerto.

“Jadi sekolah berkomitmen untuk mensukseskan program habit forming, yakni menciptakan lingkungan yang Islami dan mengkondisikan murid untuk selalu berperilaku yang baik.” lanjutnya menjelaskan.

Untuk mensukseskan program ini, pihak sekolah menyelenggarakan jam khusus untuk softrskil dan lifeskill pada hari Jumat dan sabtu. Dalam kelas ini murid dibagi kedalam empat kelompok dengan masing-masing dibimbing seorang guru. Uniknya, kelas dengan menu utama dialog ini berlangsung dinamis dengan menghadirkan persoalan murid sehari-hari sebagai bahan diskusi.”

Selain itu, disediakan pula program ekstra kurikuler yang membekali murid keterampilan hidup sehari-hari seperti membuat aneka masakan, menanam dan merawat tanaman hias, juga program pendukung samacam bussines day dan motivation day.

Tidak hanya itu, sejak hari pertama masuk sekolah murid dibekali buku saku berisi tata tertib, adab Islami, dan pengetahuan-pengetahun praktis etika dan perilaku sehari-hari. “Lifeskill merupakan program pembinaan yang telah disiapkan sejak awal, tarjetnya setiap murid SMA IT Al Irsyad dapat menjadi pribadi muslim yang berwibawa, pintar membawa diri, cerdas, dan bermanfaat bagi masyarakat” ungkapnya.

“Buku saku fungsinya sangat penting untuk membantu murid mengontrol dirinya sendiri, tentunya selalu dalam bimbingan guru. Dengan ini murid ikut melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri” tambahnya.

Saat ini setiap guru diarahkan untuk memiliki kualitas setara dengan guru agama dan guru Bimbingan dan Konseling (BK), artinya setiap guru tidak hanya mampu mengajar (teach) tetapi juga mampu mengarahkan murid (touch) kepada kebaikan.[]

Anggar-Cantika terpilih jadi Bupati dan Wabup level 4

PAGI hari di awal bulan lalu (1 November) Alun alun dipenuhi ratusan anak-anak, terutama di bagian timur dimana tampak tobong pemilu dan panggung kampanye didirikan. Hari itu adalah saat pemilihan umum bupati dan wakil bupati (Pilbup dan wabup) level 4 SD Al Irsyad dilaksanakan.

Sebelum jam sembilan, empat pasang kontenstan tampak bersemangat mengkampanyekan program-programnya. Sepertinya masing-masing calon tidak mau kehilangan kesempatan untuk meraih jumlah pendukung sebanyak-banyaknya.

Para pasangan calon ini diataranya, Adibta D.-Salazaria, Anggar Dipogusti-Cantika Zinedine, Giffari Imawan-Abtania DA, dan Beni Ma’sum-Fikri Sekar A.

Keempat pasang calon merupakan pilihan murid. Uniknya pendukung setiap calon tidak terbatas pada teman-teman sekelas. “Dalam pemilu ini pendukung setiap calon tersebar dari berbagai kelas, sehingga sulit untuk memprediksi kemungkinan pemenang dari keempat pasang ini. Termasuk dalam hal ini, setiap calon boleh mencari pasangannya dari kelas lain. Semua proses ini dilakukan oleh para murid.” ungkap Drs. Andi Mulyono Wali Kelas 4A.

Baru pada jam 9, Panitia Pemungutan Suara (PPS) segera bersiap di tobong untuk segera memulai pemungutan.

Simulasi pemilu ini merupakan prakarsa wali kelas level 4 bekerjasama dengan guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Meskipun demikian, tarjet dari simulasi ini adalah praktek pembelajaran kombinasi antara PKn, Matematika dan Bahasa Indonesia.

“Bulan lalu murid-murid telah memasuki termin 4 pelajaran PKn yang diantaranya tentang pemilihan bupati dan wakil bupati. Tentunya materi ini tidak mudah dijelaskan bila mengandalkan cerita di kelas. Sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang lebih daripada sekedar tekstual. Maka dipilihlah simulasi pilbup dan wabup.” kata Andi yang sekaligus guru PKn ini.

Simulasi pemilu dengan demikian diupayakan persis sebagaimana pemilu yang sesungguhnya. Hal ini untuk menghindari kesalahan pemahaman murid pada pemilu. “Untuk mensukseskan acara ini, seluruh wali kelas menyiapkan perangkat dan aturan-aturan pemilu yang sudah disesuaikan dengan kemampuan murid-murid.” tambahnya.

Pemilu berlangsung lancar, tampak murid putera lebih cepat selesai dari pada murid puteri. Meskipun demikian, acara penghitungan suara tampak memacu antusias seluruh murid, sorak-sarai murid mengisi atsmosfer alun-alun hingga akhirnya terpilihlan Anggar Dipogusti dan Cantika Zinedine sebagai pasangan dengan suara terbanyak, yakni 55 dari 133 suara.

Dengan demikian Anggar-Cantika diputuskan sebagai pemenang pemilu, dan berhak menyandang jabatan Bupati dan Wakil Bupati. Direncanakan  program yang disusun oleh keduanya akan diserahkan kepada Bupati dan Wakil Bupati Banyumas. []


Arsip

Kategori